Sen. Nov 12th, 2018

Buku Agama Salah Sebut Urutan Nabi, DPR: Editing Memalukan

JAKARTA, NP – Anggota Komisi X Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR-RI) Dadang Rusdiana mengatakan, buku yang salah menulis urutan Nabi Muhammad—beredar di Padanglawas Utara, Sumatera Utara—itu proses editingnya sangat memalukan.

Anggota Komisi X Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR-RI) Dadang Rusdiana. (Foto: Istimewa)
Anggota Komisi X Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR-RI) Dadang Rusdiana. (Foto: Istimewa)

Buku Pendidikan Agama Islam (PAI) untuk kelas V tingkat Sekolah Dasar (SD) terbitan Grafindo Media Pratama ini membuat gempar. Sebab, di buku tersebut tertulis Nabi Muhammad SAW adalah nabi ke-13, sedangkan Isa AS nabi ke-25.

“Saya tak habis pikir, kok masalah dasar seperti itu luput dari proses editing, kan ini sangat memalukan,” kata Dadang, saat dihubungi satuharapan.com, di Jakarta, hari Senin (1/2).

Menurut Politikus Partai Hanura itu Nabi yang wajib diketahui dan berjumlah 25 itu sudah menjadi pokok-pokok ajaran Islam yang sudah ditarbiyahkan turun temurun.

“Jadi semua umat Islam tahu bahwa Nabi Muhammad adalah nabi ke-25 dari Nabi yang wajib diketahui berdasarkan kronologis historis, dan beliau ditempatkan sebagai penutup para Nabi,” kata dia.

Untuk itu, kata Dadang kalau Nabi Muhammad ditempatkan dalam urutan ke-13 itu akan membuat bingung bagi peserta didik.

“Jadi kalau Nabi Muhammad ditempatkan dalam urutan ke-13, dasar pemikirannya seperti apa, itu akan membuat kebingungan bagi peserta didik. Sebab yang dia baca di buku tentu berbeda dengan apa yang didapatkan di pengajian, madrasah maupun pendidikan orangtua,” kata dia.

“Sejauh mana kredibilitas pengarang dan penerbit buku tersebut, ini yang harus ditertibkan oleh Mendikbud. Tarik buku-buku yang cacat secara keilmuan dan bertolak belakang dengan pemahaman umat Islam Indonesia,” dia menambahkan.

Dengan demikian, kata Dadang Komisi X sedang melakukan penyelesaian Rancangan Undang-Undang (RUU) sistem perbukuan untuk menjamin kepastian agar masyarakat memperoleh buku yang berkualitas dan terjangkau.

“Komisi X sedang RUU sistem perbukuan untuk menjamin kepastian agar masyarakat memperoleh buku yang berkualitas dan terjangkau,” kata dia.

Buku tersebut mengurutkan nama Nabi Muhammad SAW berada di urutan ke-13, sedangkan Nabi Isa AS ke-25. Akibatnya, sejumlah orangtua yang anaknya bersekolah di tingkat SD resah dan mengecam isi buku yang beredar di Padang Lawas tersebut segera ditarik peredarannya. (satuharapan.com)

63,306 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Share this product!