Sel. Des 11th, 2018

BNPB: Ancaman Rob DKI Makin Serius, Eksploitasi Air Tanah Buat Tanah Turun

Jakarta,NASIONALPOS – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mewanti-wanti bahwa ancaman rob di masa datang makin serius. Rob ini imbas turunnya muka air tanah karena eksploitasi air tanah yang berlebihan.

“Penurunan muka tanah akibat eksploitasi air tanah yang tidak terkendali membuat Jakarta Utara semakin rawan banjir rob. Penurunan tanah di pantura Jakarta bukan sesuatu yang bersifat alamiah. Tapi lebih disebabkan faktor pengaruh manusia yaitu eksploitasi air tanah yang melebihi daya tampung dan daya dukungnya,” jelas Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho dalam siaran pers , Selasa (7/6/2016).

Rob Utara

Pengambilan air tanah yang besar-besaran inilah, imbuh dia, yang menyebabkan akuifer dalam tanah kempes sehingga tanah ambles. Akuifer adalah lapisan bawah tanah yang mengandung air dan dapat mengalirkan air. Melalui akuifer inilah air tanah dapat diambil.

“Selain itu ada faktor alami yaitu kenaikan muka air laut. Kombinasi antara turunnya tanah dan naiknya muka air laut itulah yang menyebabkan rob,” jelasnya.

Di kawasan pantai utara Jawa, khususnya di Jakarta Utara dan Kota Semarang, banjir rob berada di kawasan yang lebih rendah dibandingkan permukaan air laut. Daerah ini secara alamiah memang lebih rendah daripada muka air laut saat pasang tertinggi.

Supto menegaskan Jakarta ancaman rob di Jakarta akan makin meningkat di masa mendatang karena penurunan permukaan tanah terus menurun tanpa bisa dikendalikan. Dari hasil pengukuran tahun 1925-2010, permukaan air laut Jakarta selalu naik setiap tahun. Kenaikannya rata-rata 0,5 sentimeter (cm) per tahun.

“Sebaliknya, laju penurunan muka tanah Jakarta mencapai 5 cm hingga 12 cm per tahun di sejumlah titik selama tiga dekade terakhir. Kondisi itu yang menyebabkan akumulasi permukaan air laut yang menggenangi tanah Jakarta jadi lebih tinggi,” tuturnya.

Sutopo memaparkan hasil penelitian ITB yang dijalankan selama 1982-2010 dengan teknologi survei sifat datar (leveling survey) dan menggunakan alat global positioning system serta radar (Insar), ditemukan penurunan muka tanah tersebar di sejumlah tempat di Jakarta.

“Penurunannya bervariasi 1-15 cm per tahun. Bahkan, di beberapa lokasi terjadi penurunan 20-28 cm per tahun. Kawasan Pluit, Penjaringan, Jakarta Utara, adalah salah satu kawasan yang mengalami penurunan muka tanah cukup besar. Selama tiga dekade ini, beberapa daerah di Pluit mengalami penurunan tanah 1,8 meter hingga 3 meter,” papar dia.

Saat ini di Jakarta Utara wilayah ada 26 titik rawan banjir rob meliputi Penjaringan, Pluit, Kamal Muara, Kapuk Muara, Tanjung Priok, Kalibaru, Ancol, Pademangan, Marunda, Koja, Lagoa, Sunter Karya Selatan, Papanggo, Sunter Agung, Warakas, Kebon Bawang, Sungai Bambu, Jampea, Kramat Jaya, Kelapa Gading, KBN Cakung, Sunter Jaya, dan Yos Sudarso.

“Ancaman rob di masa mendatang akan makin serius sehingga dapat menyebabkan wilayah Utara Jakarta tidak menarik untuk investasi atau pengembangan wilayah jika tidak dapat mengatasi rob. Perlu upaya yang komprehesif untuk mengatasi banjir rob karena ancaman di masa mendatang akan lebih meningkat,” tuturnya.

Masyarakat, lanjut dia, harus adaptasi dan mitigasi dengan rob tersebut. Masyarakat dan pemerintah bisa membuat tanggul, meninggikan lantai, membangun rumah panggung dan lainnya. Bahkan secara swadaya membangun polder dan pompa untuk melindungi lingkungannya. Masyakarat dan dunia usaha yang ada di wilayah itu harus kompak tidak mengeksploitasi air tanah secara berlebihan. Membangun sumur resapan, biopori, dan upaya lain yang intinya menakan agar penurunan muka tanah dapat berkurang.

“Pemda DKI Jakarta dan Kementerian PU Pera telah memiliki langkah-langkah antisipasi rob dan banjir di Jakarta, seperti pembangunan tanggul laut raksasa, reklamasi, pembangunan polder, tanggul di pantai dan upaya struktural lainnya. Tentunya saja upaya tersebut selalu ada yang pro dan kontra,” jelasnya.

(detik.com)

541 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Share this product!