Sen. Nov 19th, 2018

Bos Candra Naya, I Wayan Suparmin Terseret Kasus RS. Sumber Waras

JAKARTA, NasionalPos – Kasus sengketa lahan Rumah Sakit (RS) Sumber Waras memasuki tahap Peninjauan Kembali (PK) di Mahkamah Agung (MA). Ketua Perhimpunan Sosial (PS) Candra Naya, I Wayan Suparmin menunggu keputusan Peninjauan Kembali (PK) dari majelis hakim di Mahkamah Agung.

Berdasarkan buku berjudul “Jejak Berliku 70 Tahun Candra Naya Mengabdi” karya Ign Tri Cahyo memuat kisah tentang perseteruan antara PS Candra Naya dengan Yayasan Kesehatan Rumah Sakit Sumber Waras (YKRSSW).

Dalam buku tersebut menceritakan bahwa kisah hidup Kartini Muljadi sesungguhnya tidak jauh dari PS Candra Naya. Awalnya saat masih prihatin, Kartini Muljadi pernah berkarya di PS Candra Naya. Suaminya, Liem Tjing Hien atau (alm) Djojo Muljadi, tercatat beberapa kali sebagai pengurus PS Candra Naya semasa hidupnya.

PS Candra Naya memiliki aset tanah seluas 32.370m2 di jalan Kyai Tapa. Pada tanggal 20 September 1962, PS Candra Naya mendirikan Yayasan Kesehatan Candra Naya (YKCN), yang kemudian berganti menjadi Yayasan Kesehatan Sumber Waras (YKSW), yang menjadi pengelola RS Sumber Waras.

Rumah Sakit tersebut sebagian berdiri di atas tanah milik PS Candra Naya di Jalan Kyai Tapa, Tomang, Jakarta Barat.

Pada tahun 1970 pasca G30S PKI, situasi masih kacau, secara diam-diam Ketua PS Candra Naya, Padmo Soemasto membuat hibah secara proforma, yakni tanah milik PS Candra Naya tersebut dihibahkan kepada YKSW, yang diwakili sendiri oleh Padmo Soemasto selaku Ketua YK Sumber Waras.

Hibah itu juga tanpa persetujuan dari Rapat Umum Anggota PS Candra Naya.

Transaksi yang ganjil ini, dilakukan di depan Notaris Liem Tjing Hien atau Djojo Muljadi.  Setelah itu, Padmo menunjuk Kartini Muljadi sebagai Ketua YKSW.

Karena hibah tersebut tidak pernah disahkan Rapat Umum Anggota, maka  YKSW dan Kartini mengklaim tanah tersebut sebagai miliknya. Alasannya, hibah tidak sah dan melanggar hukum.

Namun, pada tahun 1993, tanpa seizin pihak PS Candra Naya, Padmo mengatasnamakan YKSW menjaminkan sertifikat tanah ke Bank Liman Internasional untuk meminjam kredit sebesar Rp 5,4 miliar untuk merenovasi RS Sumber Waras.

Namun, sebelum kredit lunas, Padmo menderita sakit dan jabatan Ketua PS Candra Naya digantikan oleh I Wayan Suparmin. Tak lama setelah itu, Padmo dikabarkan meninggal dunia.

Setelah kredit lunas, pihak Bank Liman menyerahkan kembali sertifikat tanah tersebut kepada Suparmin selaku Ketua PS Candra Naya.

Disinilah persoalan muncul. Suparmin menolak menyerahkan sertifikat tanah yang diminta Kartini selaku Ketua YKRSSW.

Konflik berlanjut,  Kartini lalu mengirimkan somasi kepada pihak Suparmin. Tapi, somasi itu tidak ditanggapi, hingga Kartini melaporkan Suparmin ke Mabes Polri dengan tuduhan penggelapan.

Di persidangan PN Jakarta Barat, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Didik dan Anton mendakwa Suparmin dengan  pasal 372 KUHP tentang Penggelapan. Setelah persidangan beberapa kali, maka pada tanggal 23 September 2015, Majelis Hakim di pimpin oleh Mochamad Saleh, menvonis Suparmin bersalah. Dia dihukum 18 bulan penjara, serta memerintahkan menyerahkan sertifikat Hak Milik no.124/Tomang kepada Kartini Mulyadi selaku ketua YKSW.

Suparmin pun masuk bui, tapi dia  mengajukan banding ke Pengadilan Tinggi DKI Jakarta.

pada tanggal 23 November 2015, Majelis Hakim Pengadilan Tinggi (PT)  Jakarta yang diketuai oleh Amir Maddi dengan anggota Saparuddin Hasibuan dan Achmad Subaidi mengabulkan permohonan banding Suparmin.

Majelis hakim  memutuskan Suparmin tidak melakukan tindak pidana penggelapan. Untuk itu, hakim memerintahkan agar Suparmin  diilepaskan dari segala tuntutan hukum.

Pihak Kartini tidak tinggal diam dan langsung mengajukan kasasi. Akhirnya, pihak Kartini menang, sehingga ada kemungkinan Suparmin akan kembali masuk penjara.

Namun Suparmin mengajukan Peninjauan Kembali (PK). Kini, kasusnya masih menunggu putusan hakim MA.

Suparmin yang coba dihubungi nasionalpos.com melalui telepon genggamnya tidak aktif. (rid)

143,235 kali dilihat, 6 kali dilihat hari ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Share this product!