Jum. Sep 21st, 2018

Komite Nasional Gerakan Budaya dan Jatidiri Bangsa Pertahankan Pancasila

Jakarta, Nasionalpos.com – Fenomena tumbuh dan berkembangya paham-paham seperti komunisme, sosiaslisme, liberalisme, kapitalisme dan teologisme ditengah-tengah masyarakat Indonesia adalah sebuah kenyataan yang tidak terbantahkan. Kini paham-paham tersebut jelas menjaadi ancaman serius bagi ideologi Pancasila.

Berangkat dari keprihatinan tumbuhnya paham yang bertentangan dengan ideologi negara itulah, Komite Nasional Gerakan Budaya Dan Jatidiri Bangsa menggelar acara “Refleksi Ideologis Akhir Tahun” yang dilaksanakan di Hotel Bumi Wiyata, Depok, Jawa Barat pada Rabu (20/12/2017).

Turut hadir dalam acara itu adalah Ade Nur Priyatna (akademisi), Wawan Ruswandi (Seniman/artis), Hendry Yatna (Ketum Paguyuban Bumi Pasundan), Tora Kundera (Seniman Jalanan).

Hendry yang juga Ketua Presidium Komite Nasional Gerakan Budaya dan Jatidiri Bangsa, menilai Pancasila sebagai dasar negara kita sudah sangat sempurna untuk menjadi pegangan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Indonesia, sebagai sebuah bangsa yang sejatinya selalu menjunjung tinggi nilai-nilai Ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kemusyawarahan dan keadilan, seharusnya menjadi sebuah bangsa yang sejahtera, mandiri, damai dan sentosa.

“Namun, di sisi lain muncul fenomena tumbuh dan berkembangya paham-paham seperti komunisme, sosiaslisme, liberalisme, kapitalisme dan teologisme ditengah-tengah masyarakat yang tidak terbantahkan,” jelasnya,

Menurutnya, paham-paham tersebut tidak hanya menjadi sebuah kajian ataupun kekayaan ilmu yang dimiliki oleh masyarakat, tetapi sudah menjadi sebuah pergerakan berbahaya yang bertujuan menggeser ideologi bangsa Indonesia yaitu pancasila.

“Bahwa paham-paham tersebut masuk kedalam kehidupan masyarakat Indonesia dengan merusak budaya dan jatidiri bangsa Indonesia yang sesunguhnya, pergerakan paham tersebut menggunakan pola gerakan radikal dengan meniadakan rasa kemanusian untuk mencapai tujuannya,” bebernya.

Untuk itu, perlu adanya sebuah perlawanan berupa gerakan yang dilakukan oleh seluruh elemen Masyarakat Indonesia. Masyarakat bersatu membangun perlawanan terhadap paham-paham yang ingin dan telah merusak budaya dan jatidiri bangsa agar bisa mengembalikan identitas bangsa.

Sebab, Pancasila telah menjadi ideologi bangsa, yang digali oleh para pendiri bangsa ini dari nilai-nilai yang telah ada dalam sendi kehidupan masyarakat Indonesia selama berabad-abad lamanya. Nilai tersebut telah menjadi budaya dan jatidiri bangsa, namun kini mulai memudar.

Terkait dengan gerakan mengembalikan jatidiri bangsa berdasarkan Pancasila itu, maka pihaknya akan melakukan sebuah gerakan nasional pengembalian budaya dan jatidiri bangsa yang terstruktur, sistematis dan masif, sehingga sebuah tatanan masyarakat yang Pancasilais dapat terwujud ditanah air tercinta ini.

Pada kesempatan itu, Hendry juga menyinggung soal isu internasional yang juga bertentangan dengan amanat UUD 1945, yakni sikap Pemerintah Amerika Serikat (AS) yang mengklaim Yerusalem sebagai Ibukota Israel. Menurutnya, pernyataan sikap AS melalui Presiden Donald Trump itu jelas melanggar Hak Asasi Manusia dan hukum internasional. Karena itu, phaknya meminta agar AS menarik kembali sikapnya dan mengakui Yerusalem sebagai bagian dari Negara Palestina.

“Dan demi rasa kemanusiaan, demi rasa keadilan, serta demi amanat UUD ’45, bahwa penjajahan diatas muka bumi harus dihapuskan, maka kami turut mendukung Deklarasi KTT OKI di Istambul yang dihadiri oleh 57 negara, termaksud Negara Indonesia yang dengan tegas menyatakan bahwa Yerusalem adalah Ibu Kota Negara Palestina,” pungkas Hendry.   []

 

1,070 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Share this product!