Rab. Des 12th, 2018

MUI Tak Yakin Orang Gila Pelaku Penyerang Pemuka Agama

Nasionalpos.com, Jakarta – Ketua Dewan Pembina Majelis Ulama Indonesia (MUI) Din Syamsuddin tidak yakin pelaku penyerangan terhadap sejumlah pemuka agama dan tempat ibadah dilakukan oleh orang yang mengalami gangguan jiwa.

Mantan Ketua Umum PP Muhammdiyah ini beranggapan jika polisi menyimpulkan pelaku penyerangan itu orang gila, maka tentu kasusnya tidak akan pernah bisa tuntas dan kemungkian akan terus berulang.

“Kalau selesai dengan dalih orang gila karena nanti bisa ditanya balik, ‘Lha kenapa tiba-tiba Desember lalu sampai sekarang sering muncul musimnya orang gila dan menyerang tokoh-tokoh agama dan tempat ibadah?’,” tutur Din di kantor Pusat MUI, Jakarta, Rabu (21/2/2018).

Menurutnya, rentetan kasus penyerangan tersebut bukanlah kasus yang kecil. Bukan sekadar tindak kriminal yang dilakukan oleh seseorang yang mengalami gangguan jiwa. Tindakan itu pun, tidak dilakukan secara tiba-tiba.

Din menduga rentetan penyerangan itu memang telah direncanakan. Karena itu, tidak mungkin pelakunya mengalami gangguan jiwa.

Din lantas menyatakan rencana rentetan penyerangan terhadap pemuka agama sebagai sebuah rekayasa jahat.

Pihaknya mengaku telah mendapat penjelasan dari Kepala Badan Reserse Kriminal Mabes Polri, Komisaris Jenderal Ari Dono Sukmanto dalam rapat Pleno MUI ke 25 di Kantor Pusat MUI, Rabu siang tadi.

Menurutnya, Ari memang telah mengungkapkan alasan kepolisian menyimpulkan kasus penyerangan terhadap pemuka agama dan tempat ibadah kepada pengurus dewan pertimbangan MUI. Namun, masih banyak yang perlu diperjelas. Karena itu, pihaknya meminta aparat kepolisian jangan terlalu cepat menyimpulka bahwa pelakunya orang gila.

“Tolong jangan langsung ambil kesimpulan sebelum meneliti betul. Sebab, kesimpulan itu bisa menjadi bumerang,” tegas Din.

Seperti diketahui, telah terjadi rentetan aksi penyerangan terhadap pemuka agama sejak akhir Januari lalu.

Pertama, pada 27 Januari lalu di Pondok Pesantren Al Hidayah Cicalengka, Kabupaten Bandung. Pimpinan Ponpes KH Umar Basri dianiaya usai melaksanakan Salat Subuh

Kedua, pada 1 Februari 2018, terjadi penyerangan terhadap pengurus Persis Ustaz Prawoto.

Lalu, pada Minggu (11/2/2018), penyerangan terjadi di Gereja Santa Lidwina Bedog, Sleman, Yogyakarta. [ ]

 

446 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Share this product!