Rab. Des 12th, 2018

Umat Muslim di Islandia Berpuasa selama 22 Jam

Nasionalpos.com —  Indonesia rata-rata durasi puasa adalah 12 jam, maka di belahan Bumi sebelah utara yang sedang mengalami musim panas durasi puasa menjadi amat panjang.

Salah satunya adalah di Islandia. Di negeri kecil Eropa Utara ini, umat Muslim harus berpuasa selama 22 jam. Di saat musim panas seperti saat ini, di Islandia matahari bersinar lebih lama. Matahari baru terbenam sekitar pukul 23.00 dan terbit pada pukul 04.00 waktu setempat.

Alhasil, umat Muslim Islandia harus menjalani puasa selama 22 jam. Artinya, mereka hanya memiliki waktu dua jam untuk berbuka, shalat tarawih, dan santap sahur.

Dilansir dari kompas.com salah satu umat Muslim yang harus berpuasa selama 22 jam itu adalah Sulaiman, pria asal Pakistan yang pindah ke Islandia lima tahun lalu. Setelah menahan lapar dan dahaga selama 22 jam, Sulaiman hanya menyantap buah dan yoghurt untuk berbuka. Setelah itu dia tak makan atau minum hingga saatnya berbuka. “Saya berpuasa selama 22 jam karena sesuai ajaran Islam kami harus berpuasa dari subuh hingga matahari terbenam,” ungkap Sulaiman.

Meski amat panjang, Sulaiman tak merasa berat saat menjalankan ibadah puasa kali ini. “Karena saya mengimani, maka iman itu yang menguatkan saya. Amat mudah, malah ini sudah menjadi hal yang alami,” tambah dia.

Sulaiman menambahkan, setelah beberapa hari berpuasa dia merasa terbiasa dan menahan lapar atau dahaga dalam waktu lama menjadi bagian dari hidupya. Meski harus berpuasa selama 22 jam, Sulaiman tetap bekerja seperti biasa dan tidak meminta dispensasi apapun dari tempat kerjanya.

Di Islandia terdapat sekitar 1.000 orang pemeluk agama Islam. Namun, tak semuanya memilih berpuasa selama 22 jam seperti Sulaiman. Salah satunya adalah Mansoor yang adalah seorang imam di sebuah komunitas warga Muslim di Reykjavik, ibu kota Islandia.

Komunitas yang dipimpinnya memilih berpuasa selama 18 jam tidak sampai menunggu matahari terbenam pada pukul 23.00. “Saat kami membaca beberapa ayat Al Quran terkait puasa, Allah mengatakan, Dia berkenan memberi kemudahan bagi manusia,” kata Mansoor. Dia menambahkan, kerap mendengar kabar beberapa orang jatuh pingsan atau sakit akibat durasi puasa yang terlalu panjang.

Satu lagi umat Muslim Islandia adalah Yakub, pemilik sebuah restoran kebab di Reykjavik. Sepanjang bulan Ramadhan, Yakub tetap membuka warungnya, menjual makanan untuk pelanggannya, sementara dia sendiri tetap menjalankan ibadah puasa.

“Saat Anda menjual makanan dan tidak makan, tentu saja rasa lapar itu ada. Namun, itu bukan alasan untuk menghentikan puasa,” ujar Yakub. “Jika Anda mengimani sesuatu, maka Anda akan menjalankan kewajiban Anda,” tambah Yakub.

Tak jarang demi menghemat waktu, sekelompok umat Muslim berbuka bersama di sebuah masjid dan dilanjutkan dengan shalat tarawih. Usai shalat tarawih mereka kemudian siap untuk santap sahur sebelum kembali ke kediaman masing-masing.

Dua masjid di ibu kota Reykjavik sepakat untuk mengikuti jam terbit dan terbenamnya matahari di Islandia. Sementara beberapa masjid lain dan komunitas Muslim Islandia memilih menjalankan puasa dengan jadwal negara Eropa lain. Karim Askari, direktur eksekutif Yayasan Islam Islandia mengatakan, salah satu masjid mengikuti jam puasa di Perancis.

Meski durasinya panjang tetapi menurut Askari cuaca yang dingin di Islandia membuat puasa tak seberat di negara Asia atau Timur Tengah. “Di udara panas puasa jauh lebih sulit. Sementara di negara dengan cuaca dingin lebih mudah melewati hari,” tambah dia. Selain Islandia, umat Muslim di Finlandia, Greenland, Norwegia, dan Swedia juga menjalankan ibadah puasa dalam durasi cukup panjang yaitu 19 jam. []

3,044 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Share this product!