Sab. Sep 22nd, 2018

Lopez Obrador, Pemimpin Baru Meksiko

Nasionalpos.com — Andres Manuel Lopez Obrador atau dikenal sebagai AMLO, menjadi pemenang dalam pemilu presiden Meksiko, Minggu (1/7), menebus kekalahannya pada 2006 dan 2012 lalu.

Obrador yang  merupakan mantan Wali Kota Mexico City, tidak menyerah dalam merebut kursi kepresidenan dan melakukan kampanye tanpa henti selama 13 tahun.

Jerih payah tersebut terbayar ketika hasil hitung cepat yang resmi dari negara menunjukkan Obrador mendapatkan suara sebesar 53%, mengalahkan musuhnya, Ricardo Anaya dan José Antonio Meade.

AMLO berjanji mengatasi korupsi dan kekerasan endemik di dalam negeri jika ia menjadi presiden. Obrador juga mengisyaratkan akan melegalkan obat-obatan demi mengakhiri perang brutal di Meksiko terhadap narkotika, yang menyebabkan ribuan orang meninggal selama satu dekade terahir.

Selama berkampanye, Obrador juga berjanji memangkas setengah gajinya jika ia terpilih menjadi presiden, menjual pesawat keprisedenan, dan akan tinggal di rumahnya sendiri di Mexico City, bukan di istana kepresidenan Los Pinos.

Sisi panas dan dingin

Obrador mempunyai sifat yang berapi-api ketika mengkritik dengan merasakan rasa kekecewaan pemilih terhadap “mafia kekuasaan” atau dua partai yang telah memerintah Meksiko selama hampir satu abad, yaitu Partai Revolusioner Institusional (PRI) dan Partai Aksi Nasional (PAN).

Obrador juga memiliki sisi yang dingin ketika menjawab kritik terhadapnya dengan lelucon akan menghancurkan ekonomi kedua terbesar di Amerika Latin yang membuat semua orang tertawa.

Ketika musuhnya menuduh Obrador memiliki hubungan dengan Rusia, dia dengan hebat mengubah tuduhan tersebut menjadi ironi, dengan menggunakan topi ushanka yang berasal dari Rusia dan menyebut dirinya “Andres Manuelovich.”

Kemenangan Sayap Kiri

Meskipun hasil resmi pemilu belum keluar, Meade, kandidat dari partai berkuasa, sudah mengakui kekalahan, dengan mengatakan “Saya menerima Lopez Obrador telah memenangkan pemilu ini dan berharap yang terbaik untuknya.”

Anaya, pemimpin partai koalisi dan digadang sebagai lawan terkuat Obrador, dan kandidat ketiga, Jaime Rodriguez Calderon, juga mengakui kekalahannya. Kemenangan Obrador juga mengakhiri salah satu periode kampanye yang brutal, di mana 130 orang kandidat dan pekerja partai meninggal.[]

sumber : CNN Indonesia
.

4,176 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Share this product!