Sel. Des 11th, 2018

Deklarasi IGRC, Tantangan Implementasi Integrasi  GRC di Indonesia

Nasionalpos.com,Jakarta — Kondisi kegagalan mengelola resiko usaha juga dapat mempengaruhi tumbuh berkembangnya Perekonomian makro maupun mikro, utamanya dalam dunia usaha yang memberikan konstribusi strategis pada akselarasi pertumbuhan perekonomian Nasional, oleh karena itu perlunya langkah strategis maupun taktis guna mencegah dan mengantisipasi terjadinya kegagalan tata kelola, pelanggaran kepatuhan dan mengelola risiko usaha, melalui terbangunnya sinergisitas pemerintah, pelaku usaha dan masyarakat (professional) dalam merumuskan langkah-langkah preventif, edukatif, inovatif, antisipatif dan problem solving, demikian di katakan  Bambang Wahyudi Inisiator terbentuknya Assosiasi Profesi Indonesia Governance Risk Compliance kepada pers, pada acara GRC Rountable Discussion bertemakan Tantangan Implementasi Integrasi  GRC di Indonesia & Deklarasi IGRC, di Hotel Millinium, Jakarta Pusat, Jumat ( 17/11/2018).

“ Dari fenomena terjadi di era Kekinian, maka kami bersepakat menginisiasi berdirinya suatu organisasi  ASOSIASI PROFESI INDONESIA GOVERNANCE RISK COMPLIANCE (IGRC) yang memandang bahwa GRC harus disinergikan untuk menghasilkan suatu kapabilitas untuk meningkatkan kinerja organisasi dalam menciptakan nilai” ucap Bambang Wahyudi.

Menurutnya,tantangan implementasi GRC tidak hanya mengintegrasikannya, namun yang lebih penting dilakukan terlebih dahulu adalah menjadikan masing-masing komponen pembentuknya, yakni tatakelola (governance), penerapan manajemen risiko (risk management) dan kepatuhan terhadap batasan wajib/regulasi maupun yang bersifat mandiri (compliance) lebih efektif dan mencapai tingkat kematangan yang memadai untuk kemudian diintegrasikan.

Dalam acara Rountable Discussion, yang di pandu oleh Edy Timbul sebagai moderator, dan menghadirkan narasumber yakni  Direktur Keuangan PT MRT Jakarta Tuhiyat dan Direktur Renbang & MR  BPJS Kesehatan Mundiharto, telah dikupas tantangan Implementasi GRC di Indonesia, dalam paparannya kedua narasumber tersebut, lebih menyoroti masalah pembudayaan GRC di Indonesia, sebagai komponen strategis untuk meningkatkan kinerja dunia usaha.

“GRC mesti menjadi budaya peningkatan kualitas kinerja dunia usaha, oleh karena itu perlu di tumbuhkembangkan dan di integerasikan ke komponen strategis tata kelola perusahaan,”tandas Tuhiyat.

Acara dihadir sebanyak 70 orang peserta ini ditutup dengan deklarasi dan penandatangan prasasti oleh Sembilan orang para penggagas terbentuknya IGRC.[]

877 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Share this product!