Ming. Mar 24th, 2019

Awas, Penghancuran PBB Dari Dalam Bisa Terjadi

Nasionalpos.com, Jakarta – Kondisi Partai Bulan Bintang (PBB) saat ini memprihatinkan. Jika, para elit PBB tak mampu menyikapinya dengan bijak, maka bukan tidak mungkin partai berlambang bulan bintang ini tinggal kenangan. Bahaya penghancuran PBB dari dalam pun mengintai.

Hal itu diungkapkan puteri kandung tokoh Masyumi M. Natsir, Aisyah Rahim kepada nasionalpos.com yang diwawancarai melalui telepon selular, Rabu (19/12/2018). “Yang dibutuhkan oleh PBB saat ini adalah sikap bijaksana dari para pimpinannya di DPP (Dewan Pengurus Pusat). Mereka sebaiknya duduk bersama dan bermusyawarah mencari jalan terbaik untuk partai. Pengurus DPP dan Majelis Syuro PBB duduklah bersama mencari jalan terbaik.  Inilah ajaran Masyumi yang selayaknya diikuti oleh pimpinan PBB. Kepemimpinan di partai itu kolektif kolegial bukan sendiri-sendiri,. Apalagi menganggap dirinya paling berjasa atau hebat, Pak Natsir tak pernah mengajarkan itu. Meskipun jasa Pak Natsir pada bangsa dan negara ini tak terhitung, tapi beliau tak pernah menepuk dada,” kata Aisyah.

Pernyataan Aisyah itu menyikapi kondisi PBB saat ini yang memprihatinkan menjelang pemilihan umum (Pemilu) 2019. Kekhawatiran itu muncul setelah mencermati sikap para elit PBB yang terkesan jalan sendiri dengan mengabaikan aturan partai. Khususnya terkait dukung mendukung salah satu calon presiden (capres)/calon wakil presiden (cawapres) pada pilpres 2019 nanti.

Padahal, PBB sendiri sampai saat ini belum mengambil sikap kemana arah dukungan yang akan diberikan. Mayoritas kader di akar rumput maupun caleg dan sebagian pengurus DPP PBB memang menghendaki dukungan ke capres nomor urut 02 (Prabowo – Sandi). Namun, opini publik yang berkembang beberapa elit DPP justru ingin mengarahkan PBB ke capres nomor urut 01 (Jokowi – Ma’ruf).

“PBB memang harus fokus menang atau masuk ke parlemen. Tapi, pileg ini dilakukan serentak dengan pilpres, hanya beda detik rakyat harus memilih caleg dan capres. Sehingga, memang pileg dan pilpres itu terkait, makanya caleg juga harus cerdas menjelaskan sikap PBB kepada konstituen bahwa PBB tetap istiqomah berjuang untuk Islam. Itulah kenyataannya, memang ada yang menginginkan ke pasangan ini tapi yang lain ingin ke situ. Tapi, harusnya pimpinan di DPP memaklumi itu karena perbedaan itukan hal yang wajar. Namun, dalam mengambil sikap harusnya pimpinan itu terlebih dahulu melakukan musyawarah dan apapun keputusannya harus dipatuhi. Sehingga, sifanya kolegial jadi bukan kehendak sendiri-sendiri. Perlu diingat bahwa keputusan partai harus mempertimbangkan betul aspirasi atau keinginan kader di akar rumput,” jelasnya.

Karena itu, lanjutnya, sikap para kader maupun para pimpinan DPP harus independen. Sebagaimana dicontohkan oleh M. Natsir selalu teguh dengan pendiriannya tanpa dipengaruhi oleh kepentingan pihak lain yang bisa jadi berdampak negatif pada arah atau cita-cita luhur perjuangan.

“Janganlah kita bersikap karena ada pengaruh dari pihak lain yang bisa jadi itu buruk untuk PBB. Saat ini memang Umat dihadapkan pada dua pilihan yang buruk, tapi tentu harus ada sikap memilih yang terbaik dari yang buruk iru. Kalau saya pribadi dukung Prabowo bukan karena terpengaruh atau ada kepentingan. Saya ini bukan siapa-siapa dan tidak pernah bermimpi menjadi siapa-siapa. Pilihan saya itulah kata hati saya,” tegasnya.

Di sisi lain, Aisyah pun mengingatkan bahaya yang mengancam PBB. Ancaman itu datangnya dari luar maupun internal PBB sendiri. Namun, yang paling mengkhawatirkan dirinya adalah ancaman dari internal PBB sendiri.

Menurutnya, dimata partai-partai lain baik itu partai nasionalis maupun berbasis agama, PBB merupakan ancaman serius. Karena, hanya PBB lah yang selama ini secara jelas berjuang untuk Umat Islam. Bahkan, secara tegas PBB telah menyatakan ideologinya Islam.

“Sejak tahun 2005 lalu bahkan di muktamar terakhir PBB, saya sudah ingatkan Pak Yusril dan Pak Kaban bahaya dari dalam PBB sendiri. Bukan mustahil ada yang susupan dari pihak luar yang akan menghancurkan PBB dari dalam. Indikasinya silahkan lihat dan cermati sendiri karena saya yakin semuanya cerdas,” terang Aisyah.

Meskipun begitu, Aisyah optimis PBB akan tetap solid dan kembali berjaya menjadi partai Islam yang konsisten memperjuangkan aspirasi Umat Islam. Sepanjang, para pimpinannya bijaksana dalam menyikapinya. Selain itu para kader mudanya bisa lebih cerdas. “Abah (M. Natsir) sebelum wafat pernah mengatakan bahwa suatu saat nanti Partai Islam akan kembali bangkit dan memimpin. Karena yang mengatakan itu Abah, maka tentu yang dimaksud itu adalah PBB. Meskipun saat itu PBB belum lahir. Itulah alasan mengapa sejak awal PBB berdiri sampai nanti, saya akan tetap berjuang untuk PBB meskipun saya tidak dalam kepengurusan,” ujarnya.

Aisyah tak lupa mengingatkan seluruh kader PBB tidak hanya harus cerdas tapi juga tidak latah. Sikap kritis harus dipertahankan sepanjang itu untuk kepentingan partai. “Sami’na waa atho’na itu bukan berarti harus selalu taat pada pimpinan yang keliru. Kalau pimpinan khilaf atau keliru maka harus diingatkan dan sebaliknya pimpinan juga harus mau mendengar suara-suara yang menginginkan perbaikan. Kalau imam sholat sudah buang angin, maka tentu harus mundur. Makanya, memilih imam itu harus hati-hati harus yang betul-betul memenuhi syarat sesuai hukumnya,” pungkasnya. (rid)

 

 

635 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini

2 thoughts on “Awas, Penghancuran PBB Dari Dalam Bisa Terjadi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Share this product!