Sel. Des 11th, 2018

Kesaksian Di Balik Penangkapan Rijal Aktivis 212

Nasionalpos.com,Jakarta — Momentum reuni 212 tahun 2018 menjadi ajang silahturahim para mujahid  baik personal maupun dari berbagai elemen organisasi, aktivis Islam,mahasiswa,pemuda  dan berbagai kelompok masyarakat yang menuntut di adilinya Basuki Tjahya Purnama alias ahok saat itu sebagai Gubernur DKI Jakarta atas ucapan nya menista Agama.

Di balik aksi 212 Tahun 2016, ada sekelumit cerita seputar penangkapan Rijal salah satu aktivis pemuda yang juga Ketua KOBAR (Komando Barisan Rakyat).

Seperti diceritakan Hendri Yatna yang juga alumni aksi 212. Saat itu jumat 2 Desember 2016 dini hari, Rijal berada sebuah restoran siap saji di sekitar stasiun gambir Jakarta Pusat untuk persiapan ikut dalam aksi 212.

“Waktu itu Bang Rijal bersama teman teman sedang ngobrol kesiapan untuk ikut dalam aksi 212, tiba tiba Bang Rijal di hampiri oleh empat orang kata orang itu, Bang Rijal di minta untuk ikut karena ditunggu ngopi ngopi bersama Kapolda,dan ternyata di belakang empat orang itu ada dengan 20 orang tidak dikenal yang mengiringinya ,” kenang Hendri Yatna,saat ditemui Nasionalpos.com, Sabtu,(1/12/ 2018) di Posko Kobar Jakarta Utara.

Mendengar Rijal, di panggil oleh Kapolda Metro Jaya untuk ngopi bareng, lanjut Hendri, beberapa teman memutuskan ikut mendampingi Rijal, diantaranya selain dirinya terdapat Hendra Darmawan dan Jimmy Akbar. Namun setibanya di Mapolda Metro Jaya, ternyata Rijal di interograsi oleh polisi, setelah itu Rijal di bawa ke Mako Brimob Kelapa Dua, Depok.

“Saya bersama Bang Hendri dan Jimmy Akbar, ikut mengawal Bang Rijal ke Mako Brimob.” Ungkap Hendra Darmawan.

Mendengar penuturan kawan kawan Seperjuangan, Rijal merasakan kesetia kawanan sejati, komitmen yang sangat teguh dan militansi yang nilainya sangat tinggi dalam menegakkan keadilan.

“Saya bangga dan terharu bisa berada di tengah kawan kawan yang memiliki komitmen tinggi dan tetap istiqomah, terima kasih kawan kawan,” ucap Rijal.

Dua orang bersaudara,Jamran dan Rizal merupakan 2 dari 10 orang yang ditahan polisi pada 2 Desember 2016 atas dugaan makar. Jamran ditangkap di Hotel Bintang Baru, sementara Rizal ditangkap di Gambir, Jakarta Pusat. Namun, seiring berjalannya waktu, tuduhan kepada dua Rizal dan Jamran berubah dari tuduhan makar. Mereka dituduh menyebarkan kebencian di media masa kepada Ahok.

Menurut jaksa, Rizal dan Jamran terbukti menyebarkan kebencian bernada SARA (suku, agama, ras, dan antar golongan) melalui media sosial. Penyebaran dianggap dilakukan secara berulang dan sistematis.

Perbuatan itu, dinilai jaksa, melanggar Pasal 28 ayat 2 Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) sehingga keduanya di vonis hukuman 6 bulan penjara oleh Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. []

366 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Share this product!